Postingan

“DIKSIMU DIRIMU”

Gambar
Suatu hari Abu Dzar bertemu dengan Bilal bin Rabbah, seorang laki-laki berkulit hitam dari Habasyah yang sekarang kita kenal dengan Ethiopia. Sebuah Negara yang mayoritas penduduknya berkulit hitam. Ketika itu Abu Dzar memanggil Bilal dengan “Ya Ibnul Aswad…!” (heh orang hitam…).

Mendengar panggilan itu Bilal tidak menoleh, dia tersinggung lalu melaporkan perbuatan Abu Dzar kepada Rasulullah. Dia katakan kepada Rasulullah, meskipun ia memang hitam dan berasal dari daerah yang mayoritas penduduknya berkulit hitam tapi tak suka jika dipanggil demikian.

Rasulullah kemudian meminta Bilal untuk mencari Abu Dzar dan mengatakan bahwa Rasul mencarinya. Abu Dzar yang mendengar panggilan itu langsung menemui Rasulullah. “Wahai Abu Dzar apakah kau tadi bertemu dengan Bilal dan memanggilnya dengan Ibnul Aswad?” tanya Rasulullah, Abu Dzar pun mengiyakan hal tersebut.

Rasulullah kemudian berkata “sesungguhnya pada dirimu masih ada sifat jahiliyah, minta maaflah kepada Bilal yang sakit hati kare…

~Teman Perjalanan~

Gambar

Setiap hari menembus pagi ke arah timur kota sejauh lima belas kilometer, saya disuguhi pemandangan pedesaan yang indah. Hamparan sawah hijau dan kebun tebu yang luas disepanjang jalan.

Anak-anak berangkat sekolah mengayuh sepeda angin, bercanda riang gembira, tanpa beban. Di kanan kiri jalan saya bertemu Ibu-ibu berjarit menggendong bakul dari anyaman bambu (rinjing, orang jawa menyebutnya) berjalan kaki pulang dari pasar. Bapak petani yang siap dengan cangkul di pundak dan menjinjing teko berisi kopi ditangan kanan.⠀

Tak jarang di depan kendaraan saya para peternak yang membonceng rumput di jok belakang motor mereka. Atau pedagang sayur dan buah yang berangkat ke pasar grosir di kota.⠀

Senyum ketulusan senantiasa tersungging di wajah-wajah mereka. Damai, bahagia...

Senyum tulus mereka adalah sebuah wujud syukur, yakni rasa yang membuat hati tenang sebab ini adalah tentang kecukupan. Merasa cukup dengan apa yang dimiliki, merasa puas dengan apa yang dijalani.

Syukur adalah s…

~ GHIBAH ~

Gambar
"mbak, tadi aku ketemu mbak Anu. Katanya samean sombong" Nita menowel lengan Sari yang sedang sibuk mengiris bawang. Mereka sedang memasak bersama, Nita adalah adik Sari dan mbak Anu yang disebut Nita adalah sepupu mereka.

Sari bengong, terakhir ketemu mbak anu sekitar dua taun yang lalu. Seingatnya situasi terakhir mereka bertemu di sebuah acara walimatul ursy saudara dan mereka baik-baik saja. Berpelukan, cipika cipiki, bertukar kabar lalu berpencar berburu kuliner.

"Dimana letak sombongku??" Pikir Sari. "Entahlah, mungkin ada sikapku yang membuat mbak anu tak nyaman" dia bicara pada dirinya sendiri sambil beristighfar...

============

"Bu, tadi kamu dirasani Bu Ono katanya kamu ambisius, memaksakan anakmu masuk kelas akselerasi. Emang bener tah mbak si Rani itu samean paksa?"

Whattt???

Dian membelalakkan mata, shock sebentar lalu tersenyum . Dian dan bu Ono hampir tak pernah bertatap muka langsung.

"Kok bisa dia bicara begitu ya? dia ka…

~HUJAN~⠀

Gambar
Hujan adalah rahmat, menikmati suara hujan seindah musik yang menenangkan. Mencintai rintiknya seperti berada dalam labirin damai yang membuat kita enggan beranjak.⠀

Suamiku adalah penikmat hujan dan aku mencintai rinainya. Bau tanah basah setelah hujan terasa segar melonggarkan paru-paru. Maka, Ketika banyak orangtua menyimpan anaknya dan mengunci rapat pintu rumah saat hujan turun, tidak dengan kami.⠀

Hujan deras dan anak-anak sehat, itulah waktu yang tepat untuk bersenang-senang bersama mereka. Bermain air, bersepeda, berkejaran dibawah derasnya air langit. ⠀

Dulu, saat anak-anak bermain hujan seperti itu orang yang lewat didepan rumah meneriaki mereka agar segera berteduh dan berganti baju. Anak-anak akan membalas dengan senyuman dan kalimat yang diajarkan ayahnya, "inggih pakde/budhe, maturnuwun. Insya allah mboten nopo-nopo" (iya pakde/budhe, terima kasih. Insya Allah tidak apa-apa)⠀

Terimakasih telah mengkhawatirkan kami. Tapi sungguh anak-anak baik-baik saja…

~ MENARA SEDOTAN ~

Gambar
Kemarin saya beres-beres laundry room. Sebenarnya bekas kamar pembantu yang dialih fungsikan menjadi pusat dunia pergombalan, Fikri menamai ruangan dibelakang dapur itu dengan Laundry Room. Jadi keren kan? Hehe....

Nah, pas beberes itu saya nemu harta karun. Segebog sedotan jus yang (entah dulu) dibeli untuk apa, sumpah banyak buanget.

Saat memandangi bundelan sedotan, tiba-tiba terlintas dalam pikiran untuk mengajak murid-murid bersenang-senang dengan harta temuan itu.

Keesokan harinya saya bawa bundelan itu ke sekolah. Setelah berdoa dan mengabsen, anak-anak saya minta membagi diri menjadi empat kelompok. Dua kelompok putra dan dua kelompok putri. Masing-masing kelompok terdiri dari 8 anak.

Saya beri modal perkelompok 20 batang sedotan, tugas mereka adalah membuat sebuah menara dari sedotan-sedotan itu. Menara yang paling kuat dan paling tinggilah yang akan menjadi juaranya.

Anak-anak antusias berlomba membuat menara terbaik dan terkuat. Menara buatan mereka bagus, tinggi dan …

~RIDHO~

Gambar
Pemuda itu sudah kerasan di jogja. Menyelesaikan sekolah menengah di sana dia lantas mendaftar ke perguruan tinggi negeri impiannya dan diterima.⠀

Ia bawa kabar bahagia itu kepada ibunda di Jawa Timur. Dengan penuh semangat dikatakan bahwa ia telah diterima di universitas negeri bonafid di Indonesia, tinggal daftar ulang dan dia akan menjadi mahasiswa. Kepada sang ibu ia berjanji akan mencari beasiswa agar tidak memberatkan beban keluarga.⠀

Jauh diujung telepon, ibu pemuda itu mendengarkan sambil menangis dalam diam. Tak tega rasanya meminta sang anak pulang, anak yang paling penurut, yang tak pernah menuntut apapun sampai dewasa.⠀

Tapi rasanya tak mungkin untuk membiayai kuliah di jogja. Wanita itu mungkin mampu membayar biaya SPP, tapi sang anak juga butuh kamar kost, makan, buku, komputer dan biaya lain-lain. Sementara masih ada tiga anak lagi di rumah yang butuh biaya sekolah. Waktu itu usaha suaminya masih belum stabil.⠀

Maka dengan mata basah dan suara lemah ia berkata &…

"Jadi Siswa Cupu, No Way!!"

Gambar
Salah satu kegiatan tahunan yang rutin dilaksanakan di sekolah tempat saya mengajar adalah LDKS, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Suatu kegiatan yang dirancang untuk mengasah jiwa leadership siswa sebagai calon pengurus OSIS.

Menjadi pengurus OSIS merupakan dambaan banyak siswa. Mereka berebut untuk mengikuti seleksi calon peserta LDKS. Pernah suatu ketika saya iseng bertanya pada para kandidat ketua OSIS menjelang kampanye pemilihan umum berlangsung, tentang motivasi mereka masuk bursa calon ketua OSIS. Kompak mereka menjawab sambil tertawa-tawa, "menambah tingkat ke-kerenan sampai 50 persen, bu". Haha....

Tentu saja itu hanya becanda, menjadi keren hanya salah satu efek saja. Banyak pelajaran yang tak diajarkan di kelas akan diperoleh dalam organisasi. Jika mau disadari, sesungguhnya berorganisasi merupakan kawah candradimuka yang menggodog anggotanya untuk menjadi pribadi yang kuat, tekun, ikhlas dan kreatif.

Namun sayangnya, masih ada orang tua yang kurang mendukung te…

~Jogging~⠀

Gambar
Jogging, bersepeda dan berenang adalah olah raga favorit keluargaku. Sebisa mungkin kami melakukannya secara rutin. Jogging misalnya, setiap ahad pagi kalau sedang tidak ada acara keluar kota rute wajib adalah car free day di monumen Simpang Lima Gumul. ⠀
.⠀
Monumen Simpang Lima Gumul atau biasa disingkat SLG adalah salah satu bangunan yang menjadi ikon Kabupaten Kediri yang bentuknya menyerupai Arc de Triomphe yang berada di Paris, Prancis. SLG mulai dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008 oleh Bupati Sutrisno yang menjabat pada saat itu.⠀
.⠀
Dibawah monumen SLG telah dibangun ruas ruas jogging track serta taman hijau dan pepohonan rindang. Benar-benar surga para pecinta olah raga jalan kaki. Selain jogging ada beberapa remaja yang bermain volly disana, juga para runner yang berlari-lari mengitari lapangan. ⠀
.⠀
Joging atau jalan santai adalah olah raga murah meriah tapi menyenangkan. Saat jogging biasanya kami sambil mengobrol santai sehingga keakraban antar anggota…

~Far from home but close to the heart~

Gambar
Anak mondok, artinya dia tidak akan pulang sebelum libur semester tiba.

Bayangkan rasanya, anak yang biasanya tiap hari wira wiri dirumah, teriak teriak, ndusel ndusel, berantem sama adiknya tau tau tidak di rumah dalam waktu yang lama. Sepi pasti, terasa ada yang hilang di rumah.
Seminggu pertama adalah hari hari paling berat bagi emak (bapak dan keluarga) santri. Masuk rumah lihat sepeda yang biasa dipakai ananda duduk manis di garasi, air mata tak bisa diajak kompromi. Berderai derai sesukanya tak bisa berhenti.

Masih terisak isak sambil mengelap ingus yang ikut berpartisipasi, berjalan memasuki rumah disuguhi pemandangan foto keluarga yang terpampang besar di dinding. Entah kenapa, foto yang hari-hari sebelumnya menyenangkan saat dipandang tiba-tiba menjadi sangat menyedihkan dan membuat isak tangis itu semakin kencang. Seperti anak kecil yang kehilangan permennya, huuu..huu..huu... begitu, karena hiks..hiks..hiks sudah sangat mainstream haha...

Belum lagi pas menengok kamar ananda…

Merantau... Agar kau tahu arti "rindu"

Gambar

~ Bakti ~

Gambar
Kami sedang mendaki puncak Ijen di Banyuwangi. Tengah malam dengan hawa dingin pegunungan yang menusuk tulang. Saya, suami dan dua anak kami berusia 13 dan 8 tahun. Perjalanan belum mencapai setengahnya saat si delapan tahun mulai mengeluh.

Sebenarnya ada angkutan khusus untuk naik ke puncak, seperti gerobak yang ditarik dua orang. Karena medan yang curam tarifnya cukup mahal, 850 ribu per orang.

Sebelum naik anak-anak ditawari sama Ayahnya, apakah jalan atau naik gerobak?

Mereka memutuskan untuk jalan kaki saja bersama pengunjung lain.

Mumpung drama tangisan belum dimulai, saya menceritakan sebuah kisah kepada anak-anak sambil mengatur nafas yang tinggal satu satu.

Sepuluh langkah berhenti, mengisi paru-paru dengan sebanyak mungkin oksigen lalu melanjutkan perjalanan. Begitu terus sampai tiga jam lamanya menuju puncak.

Saya berkisah kepada anak-anak tentang Uwais Al Qarni, orang yang hidup di jaman Rasulullah. Orang biasa yang namanya sangat terkenal di langit.

"Dahulu di Yaman…

~ HOPE ~

Gambar
Usiamu bertambah lagi hari ini, semakin matang. Tapi aku merasa kau masih mas mas penghuni GKB UMM lantai empat yang selalu tersenyum padaku belasan tahun lalu.
Aku jadi ingat...
Waktu itu beberapa jadwal kuliah kita berada di jam yang sama. Sebuah kebetulan yang menyenangkan jika kulihat kau berdiri didepan kelasmu. 
Sebenarnya aku malu untuk melintas tapi tak ada jalan lain menuju kelasku dilantai lima kecuali harus memutar arah lebih jauh, lagipula menikmati senyum yang kau lempar membuatku merasa ada banyak kupu-kupu beterbangan. 
Meskipun setelahnya kudengar riuh gelak tawa gerombolanmu di belakang punggungku. Aku berjalan sambil menunduk, mengulum senyum, mempercepat langkah bersama kupu-kupu yang beterbangan dihatiku..

Ah, bukan menolak tua. Tapi sungguh dimataku kau selalu nampak muda, karena aku hanya ingin kelak kita menua bersama setelah menuntaskan tugas sebagai orangtua. Membersamai anak-anak meraih masa depan.

Di hari lahirmu ini, banyak doa terlantun dari aku dan anak-a…

~ Senyum Hasanudin ~

Gambar
Jika nama adalah seuntai doa, maka sesungguhnya orangtuanya tak salah menamai anak ini.

Hasanudin, menyandang arti yang indah. Hasan bermakna baik, addiin artinya agama. Diharapkan kelak tumbuh dewasa menjadi orang yang baik agamanya dan bagus akhlaknya.

Nyatanya hingga si Hasanudin besar harapan kebaikan itu semakin jauh panggang dari api. Dia tumbuh menjadi pribadi yang temperamental. Tak hanya hobi memukul teman, tapi juga kasar kepada guru. Hampir semua guru sudah pernah dimaki oleh si Hasan. Remaja tanggung berkulit sawo matang dengan rambut tegak menantang langit, seolah menggambarkan sifat pemiliknya yang pemarah.

Suatu pagi yang mendung, duduk dihadapan saya sambil menangis tersedu-sedu seorang wanita berdaster lusuh.

Dia adalah ibu si Hasanudin.

Dalam sedu sedan ia menyerah menghadapi anaknya. Di rumah Hasan sering berbuat onar dan selalu marah hingga sang ibu lelah berdoa namun anaknya tak kunjung berubah. "Kalau ibu menyerah lantas kepada siapa lagi kami berharap?"…

~RESPON~

Gambar
Hari ini anak-anak (baca ; murid saya) menerima nilai UNBK. Diantara ratusan anak banyak yang nilainya jauh dari ekspektasi. Responnya beragam, ada yang langsung diam, menangis, cuek, juga ada yang tidak berani bilang ke orangtuanya.

Saya jadi ingat dulu waktu terima danem SMA, karena sekolah di Pesantren nilai ujian mata pelajaran pondok saya dengan hasil ujian nasional bagaikan langit dan bumi, perut bumi tepatnya :D

Nilai pelajaran Ekonomi saya waktu itu hanya 50 sekian (lupa komanya, sudah ratusan tahun lalu :D ). Rasanya dunia berakhir, pengen kabur entah kemana takut Papa marah.

Menyodorkan lembar NUN dengan tangan gemetar, mata mulai berkabut tertutup kaca-kaca air mata yang hampir tumpah. Saya pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Ternyata, respon Papa sungguh diluar dugaan. Membuat saya serasa diberi kehidupan kedua oleh Tuhan :D

Melihat nilai ekonomi yang berada di bawah garis kemiskinan, Papa tertawa terpingkal-pingkal lalu mengacak rambut saya dan bilang ke Mama "mbak Ovi i…

~Memelihara Benci~

Gambar
Orang itu terus bicara dengan penuh amarah. Beberapa kata yang ia ucapkan sangat kasar. Mulutnya pedas, diksi yang ia pilih sungguh tak pantas, seperti manusia yang tak terdidik.

Aku membencinya, membenci sikap arogan dan mulut pedasnya. Ingin rasanya kusumpal memakai sepatu lima sentiku.

Hrrgghh....

Sampai pada suatu titik aku disadarkan, kenapa memelihara benci?

Sejatinya itu hanya akan menyakiti diri sendiri. Kebencian, kata Nabi Muhammad SAW, menghancurkan kebaikan laksana api membakar kayu bakar. Dan manusia terbaik itu telah memberikan banyak contoh akhlaq mulia sepanjang kehidupannya untuk kita teladani.

Ingatkah kisah ini?

Suatu hari Abu Jahal menyewa seorang Yahudi untuk menyakiti Rasulullah. Disuruhnya Yahudi itu berdiri di sebuah lorong yang selalu dilewati Rasulullah untuk meludahi beliau.

Lelaki mulia itu tak marah, bahkan beliau tetap melewati lorong itu setiap hari. Hingga suatu ketika tak dilihatnya si Yahudi. Lantas beliau bertanya kepada orang-orang kemana gerangan …

~Masuk Laptop~

Gambar
Dulu waktu anak-anak masih Paud, saya rajin sekali merekam kegiatan mereka. Terutama saat ada pentas. Saya selalu menyempatkan hadir dan menemani sampai selesai acara.

Sampai di rumah, Ayahnya akan memindahkan rekaman HP saya ke laptop lalu nobar depan laptop sambil makan popcorn.

Anak-anak akan berseru riang karena melihat dirinya terpampang di laptop sambil teriak "horee masuk laptop masuk laptop. De sini de aku masuk laptop" memanggil manggil bude pengasuh yang sibuk di dapur. Diajak nonton

Hari ini masuk TV ya le, tivi lokal dulu. Semoga kelak akan bisa tampil di tivi nasional bahkan internasional dengan prestasi yang lebih membanggakan dan bermanfaat bagi dunia.

Thanks for make us proud
Mom and Dad love you...

~BERANDA~

Gambar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai ruang beratap yang terbuka (tidak berdinding) di bagian samping atau depan rumah (biasa dipakai untuk tempat duduk santai sambil makan angin dan sebagainya) kata lainnya adalah teras.

Pagi ini saya menemani suami ngopi di beranda rumah, spot favorit kami setelah meja makan, untuk ngobrol santai sambil memandangi bunga-bunga bermekaran di taman kecil depan rumah.

Ini adalah hari terakhir sebelum Ramadhan tiba. Esok pagi sudah tidak boleh lagi duduk-duduk sambil ngopi.

Nanti malam tarawih pertama akan kita dirikan. Itu artinya pagi ini umat Islam sedang berdiri diberanda bulan suci ramadhan. Saat senja tiba kita sudah masuk Ramadhan, bulan yang paling dirindukan umat Islam dari dua belas bulan yang ada.

Maka senyampang masih diberandanya kami sekeluarga mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya jika selama bergaul bersama teman-teman baik di dunia maya maupun nyata ada banyak sekali kekhilafan

Pintu maaf yang dibukakan untuk k…

~ KESAN ~

Gambar
Setiap anak didik yang datang dan pergi pasti meninggalkan kesan tersendiri di hati kami, para pendidik.

Anak bandel, biasanya akan cepat dihafal di hari pertama dia melakukan pelanggaran tata tertib. Anak cerdas selalu terkenang sebab mungkin menjadi satu-satunya yang selalu menjawab pertanyaan guru dengan benar  Anak pendiam, anak ceria, anak manja...juga meninggalkan kesan sendiri dihati kami.  Masing-masing membawa kesan mendalam di tiga tahun pengasuhan kami selama delapan jam sehari.

Pertama kali datang ke sekolah bercelana kependekan warna merah dengan atasan putih yang hampir krem bahkan coklat wajah wajah polos itu masih terbayang.

Saat seragam putih birunya selesai dijahit mereka bertransformasi menjadi remaja-remaja yang cantik dan ganteng.

Di tahun kedua tinggi badan mereka sudah melebihi tinggi gurunya dan di tahun terakhir sudah bisa diajak diskusi, berpikir masa depan. Menentukan sekolah lanjutan, memilih jurusan bahkan beberapa berani berbeda pilihan dengan orangtua.

M…

~YAKIN~

Gambar
Waktu masih kelas tiga SMP, anak ini ditanya sahabatnya tentang masa depan yang ia sendiri tak tau akan seperti apa.

"Nanti kamu masuk kuliah, abahmu pensiun. Terus piye?" tanya temannya dibawah rindang pohon beringin sekolah. 
"Maksudmu?" anak ini malah balik tanya. 
"Kamu bilang pengen jadi dokter kan. Kuliah kedokteran itu mahal. Kalau abahmu pensiun terus siapa yang mbayar kuliahmu? Sudah lah kamu ganti cita-cita saja" sang teman nampaknya betul-betul mengkhawatirkan masa depan anak ini.
Ternyata anak (yang dulunya) cungkring berkacamata ini punya jawaban yang mungkin sangat langka untuk anak limabelas tahun. Ditepuknya pelan pundak sang teman lantas ia berkata "trims yo, sudah mengkhawatirkan aku. Gusti Allah ki sugeh (kaya) sing mbiayayi aku bukan abahku, tapi Gusti Allah liwat tangan abahku. Doakan saja aku bisa jadi dokter, mengko yen kowe loro ra sah mbayar" lalu keduanya tertawa.

Abahnya pensiun saat ia kelas dua SMA, tahun berikutnya…